Fitur "Terbaik" Google Plus Bakal Dipisah?

KOMPAS.com - Google dikabarkan akan memisahkan salah satu fitur yang kerap disebut sebagai fitur terbaik dari Google+. Fitur yang dimaksud adalah kemampuan pengelolaan fotonya. 

Kabar ini ditiupkan oleh Bloomberg, seperti dikutip dari The Verge, yang mengatakan bahwa kemampuan pengelolaan dan pengolahan foto pada Google+ akan menjadi produk terpisah. 

Layanan foto itu nantinya akan bisa diakses meskipun tanpa akun Google. 

Di Google+ memang terdapat beberapa kemampuan terkait foto yang menarik. Selain bisa mem-backup koleksi foto secara otomatis dari ponsel, tersedia fitur Auto Awesome yang memungkinkan penerapan efek tertentu pada foto secara otomatis. 

Auto Awesome misalnya bisa "menjahit" beberapa foto menjadi sebuah animasi sederhana. Selain itu, Auto Awesome juga bisa meningkatkan kualitas sebuah foto. 

Ada juga fitur Stories, yang mengumpulkan foto-foto tertentu dalam sebuah album. Cara menampilkan foto dalam Stories juga menarik, misalnya dengan penanda lokasi dan waktu, yang membuat rangkaian foto lebih mampu bercerita. 

Di sisi lain, adanya kabar ini meningkatkan kekhawatiran akan makin lemahnya posisi Google+. Kabar buruk soal Google+ telah lama bersliweran sejak perginya Vic Gundotra, pria yang kerap disebut sebagai "Bapak Google+" di Google. 

Akankah Google benar-benar mencopot fitur foto dari Google+ atau justru membuat produk baru berdasarkan kemampuan foto tersebut?

Related Posts:

Intel Makin Getol dengan “Internet of Things”

KOMPAS.com - Internet of Things (IoT) adalah konsep masa depan di mana semua perangkat saling terhubung dengan jaringan internet. Interkoneksi ini memungkinan aneka macam skenario di berbagai bidang, misalnya lampu dan AC rumah yang bisa dikendalikan dari jauh.

Raksasa chip Intel tak mau ketinggalan dengan tren IoT yang belakangan makin mengemuka. Pabrikan yang mengklaim memiliki pengalaman selama 35 tahun mengembangkan konsep IoT ini ingin menjadi tulang punggung penetrasi IoT secara global melalui produk-produknya.

“Dalam hal ini, Intel memiliki prosesor Quark dan Galileo untuk digunakan di microcontroller, ada pula Edison yang memadatkan komputer utuh dalam kemasan seukuran SD Card,” ujar Channel Business Director Intel Indonesia Harry K. Nugraha saat ditemui usai acara Media Gathering Intel di Jakarta, Rabu (16/7/2014).

Produk-produk chip Intel tadi bisa digunakan di beragam perangkat dalam berbagai industri, mulai dari transportasi, retail, hingga kesehatan, untuk menjalankan protokolmachine to machine. “Jadi bentuk komputernya itu tak melulu yang memiliki layar dan keyboard,” imbuh Harry.

IoT memang menjadi salah satu fokus utama Intel di masa depan, berdampingan dengan bidang-bidang utama lain, seperti mobile dan wearable device

Awal bulan ini, Intel bersama dengan Broadcom, Dell, dan Atmel dan Samsung Electronics mendirikan Open Interconnect Consortium untuk mengatur standar interkoneksi perangkat yang tergabung dalam IoT.

Namun konsorsium tersebut bukan satu-satunya karena ada penentu standar lain bernama AllSeen Alliance yang didirikan Desember tahun lalu. Anggotanya mencakup Haier, LG Electronics, Panasonic, Qualcomm, Sharp, Technicolor, Silicon Image, dan TP-Link. 

Skala IoT akan terus tumbuh di masa depan. Pada 2020, lembaga riset Gartner memprediksi Internet of Things akan dihuni sebanyak 26 miliar perangkat.

Related Posts:

Menjajal Si Ramping Galaxy Tab S

KOMPAS.com - Pertengahan Juni, tablet terbaru Samsung, Galaxy Tab S, resmi diperkenalkan di New York, Amerika Serikat. Perangkat ini pun dijadwalkan akan segera hadir di Indonesia pada bulan Juli 2014.

Galaxy Tab S tersedia dalam dua pilihan ukuarn layar, yakni 8,4 inci dan 10,5 inci. Di samping ukuran layar itu, spesifikasi keduanya terbilang serupa.

Nah, seperti apa tablet yang disebut Samsung sebagai produk “premium flagship” ini? Ikuti ulasan singkat KompasTekno berikut.

Ramping

Dari sisi desain, product Marketing Senior Manager Samsung Mobile Indonesia Selvia Gofar mengatakan bahwa Galaxy Tab S mengusung bentuk yang mirip dengan gadget mobile lain dari Samsung.

Tampang tablet tersebut sekilas memang mirip dengan smartphone Galaxy S5 yang diperbesar, dengan tombol home di sisi muka yang diapit dua softbutton “back” dan “multitasking”.

Bagian belakangnya pun menggunakan plastik bertekstur bintik-bintik ala Galaxy S5 yang terasa kesat di tangan, mirip bahan karet. Di sisi ini terdapat unit kamera 8 megapixel yang dilengkapi LED flash dan dua buah lubang untuk menempelkan aksesori berupa casing.
oik yusuf/ kompas.com
Tampak depan Galaxy Tab S versi 8,4 inci
oik yusuf/ kompas.com
Tampak belakang Galaxy Tab S versi 8,4 inci
Galaxy Tab S versi 8,4 inci terasa sangat ringan ketika digenggam. Tak heran, karena beratnya kurang dari 300 gram. “Kakaknya” yang berukuran 10,5 inci jelas lebih berat, namun ketipisan keduanya sama, hanya mencapai 6,6 mm.

Galaxy Tab S pun memegang rekor “tertipis” untuk tablet bikinan Samsung. “Tebalnya kurang lebih sama dengan lima buah kartu kredit,” Selvia menjelaskan kepada jurnalis yang hadir di sesi hands-on Galaxy Tab S di Jakarta, Kamis (3/7/2014).

Tablet ini memang terlihat sangat ramping ketika dilihat dari sisi samping yang memuat tombol-tombol kontrol dan slot untuk kartu memori dan SIM card.

Port konektor micro-USB dan jack audio 3,5 inci ditempatkan di sisi bawah, dekat tombol Home. Tombol Home ini mempunyai pemindai sidik jari seperti halmya Galaxy S5 dan bisa dipakai untuk mengunci tablet.
oik yusuf/ kompas.com
Tampak samping Galaxy Tab S versi 8,4 inci
oik yusuf/ kompas.com
Sisi bawah Galaxy Tab S memuat konektor micro-USB dan jack audio 3,5 mm
Layar cemerlang dan bertenaga

Meski tipis, jeroan hardware yang tertanam di duet Galaxy Tab S tak bisa dipandang sebelah mata. Keduanya mengusung prosesor Exynos Octa Core dengan empat inti A15 1,9 GHz dan empat inti A9 1,3 GHz.

RAM berkapasitas 3GB berikut memori internal 16GB melengkapi spesifikasi Galaxy Tab S. Konfigurasi tersebut mendudukkannya di jajaran atas produk-produk tablet Android yang beredar di pasaran.

Tenaga Galaxy Tab S menjadikan tablet ini mampu menjalankan aplikasi-aplikasi dengan mulus. Game balap Asphalt 8 yang sempat dicoba pun dilahap dengan mudah tanpa ada masalah terkait kinerja.
oik yusuf/ kompas.com
Layar Super AMOLED pada Galaxy Tab S bisa menampilkan konten hiburan seperti game dengan cemerlang
Game tersebut nampak berjalan dengan indah di layar Super AMOLED resolusi tinggi milik Galaxy Tab S, mencapai 2560x1600 untuk versi 8,4 dan 10,5 inci. Samsung memang memberi penekanan khusus pada layar Galaxy Tab S agar konten hiburan dapat tampil dengan memukau.

“Layar milik Galaxy Tab S ini mampu menampilkan hingga 90 persen warna yang terdapat di color gamut Adobe RGB,” ujar Selvia. Tampilan layar tablet tersebut memang terlihat cemerlang, dengan kontrasi dan saturasi warna yang tinggi, mirip dengan gadget flagshiplain dari Samsung.

Work hard, play hard

Di samping hiburan, pengguna Galaxy Tab S juga bisa menggunakan tablet tersebut untuk bekerja “serius”. Ini karena Galaxy Tab S memang ditujukan untuk mereka yang suka bekerja dan bermain menggunakan tablet.

“Konsumsi konten seperti video dan game namun tetap ingin bekerja dengan tabletnya,work hard play hard,” kata Corporate Marketing Samsung Indonesia Shinta Wardiastuti.

Untuk mengakomodir urusan “work” itu, Samsung bakal turut merilis aksesori pelengkap berupa casing keyboard yang akan menyulap Galaxy Tab S menjadi serupa laptop mungil.
oik yusuf/ kompas.com Aksesoris keyboard cover pada terpasang pada Galaxy Tab S 10,5 inci
Casing keyboard ini rencananya akan  tersedia untuk Galaxy Tab S versi 10,5 inci dan 8,4 inci.

Ketika KompasTekno mencoba mengetik di unit keyboard untuk Galaxy Tab S 10,5 inci, tombol-tombol chiclet dengan spacing lebar pada aksesoris ini terasa agak sulit digunakan. Mungkin butuh waktu untuk membiasakan diri.

Selain keyboard, ada pula aksesoris lain berupa flip cover. Galaxy Tab S sendiri rencananya akan mulai dipasarkan di Indonesia pada Juli 2014.

Harganya belum diumumkan, namun Selvia menyebutkan bahwa banderol versi 8,4 inci akan dipatok di kisaran Rp 6 juta, sementara versi 10,5 inci di sekitar Rp 7 juta.

Related Posts: